Kamis, 08 Maret 2012

Rotasi

Hujan, ketika itu aku bisa memprediksi kemana Dia ingin membawaku.


Kubuka jendela, ketika dari semalam Dia memberikanku hujan, perlahan aroma tanah yang beradu dengan hujan membuat kesatuan aroma yang khas, ditambah lagi keceriaan beberapa tanaman yang sengaja aku tanam persis di depan jendelaku beruntung, lagi-lagi aku bisa menangkap bunga berwarna orange, ku pejamkan mata, angin membelaiku manja, mengaduk-ngaduk perasaan yang kemudian menyatu dengan harmoni alam, ada rahasia yang begitu misteri.


Aku berjalan menjauh meninggalkan jendela yang menghubungkanku dengan dunia luar, melangkah pergi menuju meja yang hanya berjarak beberapa langkah dari sini.
Tak ada yang seromantis ini, cahaya lilin sebagai pengganti pijar lampu disaat pemadaman listrik seperti sekarang, ketika hujan menjadi background pagi ini, aku mengambil posisi duduk  persis dihadapannya, tanganku bergerilya menyendok dua lapis kentang ditambah selembar daging kedalam pingganku, menunggu kepulannya hilang menghambur ke udara, mataku masih meneliti satu persatu menu dihadapanku, ah bubur? tak ada bayi di rumahku, siapa yang makan bubur? aku menyenderkan vertebraeku disandaran kursi, lelaki itu, semua berotasi dari ketiadaan berjalan menuju ketiadaan lagi.

Aku menyesap air putih, memastikan kerongkongan tak lagi kering, aku menyendok potongan-potongan kentang, memasukkan salah satunya ke dalam mulut ditambah potongan daging, pikiranku melayang kembali memastikan bubur memang telah menjadi makanan pokoknya beberapa hari terakhir ini.

Lelaki yang usianya telah sampai di 3/4 abad, aku teringat jelas ketika dia menyendok bubur kemudian melumatnya di dalam mulut.

Aku mulai menerjemahkan kemana Dia ingin membawaku ketika hujan, bayangku lumpuh mengingat sebuah kata "ketiadaan", segalanya bermula dari yang tiada namun sejatinya ada, bahasa yang sulit.
Tak hanya jam yang berotasi, tak hanya roda yang berputar, kehidupanku, kamu, dia, kita, mereka, semua sedang berotasi, ketika dulu berasal dari ketiadaan akan berjalan menuju ketiadaan, ketika bayi porsi makan hanya bubur dan makanan lunak lainnya, dan beranjak tua, lagi porsi makanan telah kembali —bubur.

Aku menelan potongan kentang berulangku, menikmati sedikit rasa manis yang menjulur mengenai lidahku. Sejenak pikiran nakalku menyelinap masuk dalam otakku "Bagaimana dengan perasaan? Akankah dia mampu berotasi?"
Aku terhenyak, ketika mendapati pikiranku mulai tak wajar, "YA, semua berotasi!" Kutekan dadaku, menghentikan lumatan terakhir potongan kentang dengan daging pagi ini.

Rotasi milik semua, dan semua berhak untuk berotasi, karena sejatinya keabadian hanya milik Dia, pemilik waktu rotasi.

Jember, 8 Maret 2012

0 komentar:

Posting Komentar