Kamis, 03 Januari 2013

Bingung

Bingung.
Hari ini semakin menggenapi saja.
Namun begitu banyak hikmah yang bisa didapat untuk hari ini.

Tentang titik nol.

Jember, dua sisi, 3 Januari 2012

Rabu, 12 Desember 2012

121212

Kerinduan yang kupunya masih tetap sama... padamu

Jumat, 09 November 2012

Pilihan


“Cinta tak pernah meminta untuk menanti,” katamu waktu itu mengulang kalimat yang paling aku sukai dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang yang ditulis oleh ustadz Salim A. Fillah.

“Ya,” aku terdiam menunggu kalimat dewasamu lagi. Usia kita memang terpaut cukup jauh, mungkin jua itulah alasan mengapa aku memilihmu, kau yang lebih berpengalaman, dan banyak ilmu yang telah kau serap, hingga aku percaya akan setiap kalimat yang kau keluarkan dan kau tujukan padaku. Tapi mengapa itu baru kusadari ketika ku tolak dirimu dengan berlindung dibawah ketidaksiapan perkara usia dan studi.

Kamis, 23 Agustus 2012

Kejelasan

Malam, kini kucoba habiskan waktu menyisiri mencari celah cahyamu barang sedikit
Mencari jejak kejelasan yang kan menuntunku pada terang –padamu
Adalah aku pemburumu, menyaksikan dengan mata elang segala tindak-tandukmu, dalam sunyi-bisu aku terpaku melangitkan doa, berharap ijabah dari Allaah Azza wa Jalla, –semoga
Terbersit olehku kau yang terbaik, sadar, aku terlupa bahwa malam adalah malam, keindahan tiada lama, karena esok pagi kan datang, menjerang cahaya dari sang mentari, memberikan sebuah KEJELASAN
Begitukah pula dengan–mu?
Lelaki malamku?

Adakah kau melebur meninggalkan keindahanmu, demi pagi?

Jember, 23 Agustus 2012

Sabtu, 11 Agustus 2012

Senin, 06 Agustus 2012

Permulaan


Tak kan kita mengenal angka dua jika sebelumnya angka satu tiada mendahului, begitulah cipta cinta, menjelma ketika hadirmu menghiasi waktuku.
Ketika skenario menghadirkan rasa, permulaan begitu kala itu, awal perjumpaan hati di titik rasa –suka, dan atau seringkali kita menyebutnya ini –cinta pertama.

Jumat, 20 Juli 2012

Ada Bekas Usai Jatuh



“Aaaaaaawwww…..” teriakan orang-orang sekitar lapangan itu semakin membuatku tersentak, ya, aku mengingat jelas kejadian “jatuh” itu, sungguh perasaan malu dan sakit bertumpah menjadi satu, bahkan ketika itu aku seolah tak peduli akan darah yang terus mengucur di kakiku, aku terlalu malu untuk menatap orang-orang yang menyaksikanku terperosok jatuh mencium tumpukan pasir dekat lapangan. Kupaksa tubuhku bangkit berjalan menjauh dari tatapan kalian.