Kamis, 01 Maret 2012

Makhluk Mars


Langkah kakiku terhenti, sejenak menikmati aroma tanah yang telah bercumbu dengan guyuran hujan sore tadi. Menyisakan sedikit genangan pertanda memang hujan telah mampir diatas bumiku. Langit, bagaimana kabar langit malam ini?
Seperti yang kuduga, bintang menghilang, meskipun aku mencoba melayangkan pandangan fokus mencari sedikit cahaya berkelip diatas sana, aku tetap tak menemukannya.
"Dug" semangkuk bakso yang masih mengepul diletakkan persis di depanku, manusia ini lagi, aku memandangnya sekilas, rambut pendek keriting, dengan dagunya yang khas, membuatnya memang terlihat sedikit manis, tapi aku tak suka, aku ini pembeli dan pembeli adalah raja, bagaimana bisa makhluk ini menyambut pembeli dengan wajah super cuek.
Aku menyruput sebotol teh yang bertolak belakang dengan suhu bakso didepanku, dingin, ketika air teh mengenai lidahku, beberapa saraf sensitif membuat gigiku terasa sedikit ngilu.

Masih terlalu panas untuk kusantap, aku mencoba mengipas-ngipasnya menggunakan tangan, aku tak berusaha meniupnya, aku tak mau bakso yang akan kumakan ini terkontaminasi gas CO2, gas hasil dari sisa respirasiku, bakso+kotoran, lebih baik tidak!
Aku menunggunya dengan membuang pandang di peredaran sekelilingku, jalanan yang cukup lenggang, beberapa pengendara motor yang mengenakan jaket, dan ah lagi-lagi pandanganku mengenai makhluk mars ini, makhluk tercuek sepanjang warung bakso yang pernah aku jelajahi di bumi ini.
Hambar, tak ada respon menarik dari air wajahnya, lebih baik aku menyantap cepat-cepat baksoku, aku ingin cepat pergi dari tempat ini.

Beberapa gadis seumuranku kulihat sedang tertawa-tertawa kecil sembari mengkode teman dihadapannya dengan kerlingan mata yang ah benar, dia mengarahkan pandangan ke arah makhluk mars itu. Hah? aku tersadar, jika ku prosentasekan, pengunjung disini 90% perempuan yang masih seusiaku, atau tidak aku salah terka juga beberapa ada yang jauh diatas usiaku, pantas saja makhluk mars itu nampak cuek, perempuan-perempuan ini, satu kata ---genit, makhluk mars terus menunduk, mencorat-coret diatas kertas, ah entahlah aku juga tak mengerti dia sedang mencorat-coret apa.

Dalam hitungan yang tak lama, semangkuk bakso dan sebotol teh telah berpindah ke dalam perutku, aku berjalan ke kasir, dan dia lagi, kusodorkan uang pas, tak ada reaksi, sekedar senyum atau sapaan terima kasih. Makhluk mars yang dingin, sedingin malam ini, dan hambar tanpa teduhan bintang, aku menyilangkan tanganku, memandang langit, dan sekali lagi ada pendar harap, bahwa aku ingin mengucapkan sesuatu di tanggal special itu, kepada dia yang berada dibelahan bumi lain. Dia yang sangat bertolak belakang dari makhluk mars, karena jika dia disini pasti dia akan membuatku sulit untuk menjeda ketika dia melayangkan cerita.

Jember, 1 Maret 2012 (kala malam)


0 komentar:

Posting Komentar