Mentari pagi telah meninggi, ketika aku belari kecil melintasi celah beberapa motor yang terparkir beraturan di parkiran kampus, mataku mencari-cari kumpulan kawan-kawanku berada, tanpa menunggu waktu lama, salah seorang melayangkan tangannya melambai-lambai berteriak memanggil namaku, "EL, cepat kesini!"
Aku mengangguk pelan dan berlari kecil ke tempat mereka, "Gimana rapat KHSnya?" tanyaku sedikit khawatir.
"Belum dimulai, jam sembilan kumpul di aula," seru kawanku.
Ah leganya.
Langit biru bertabur awan-awan putih nampak serasi memayungi hatiku yang sedikit resah, ini KHS pertamaku, bagaimana hasilnya nanti.
"Langsung ke Aula saja yuk," perempuan kecil itu menggandeng lenganku, tanpa menunggu persetujuan dariku, dia menarikku beranjak dari tempatku berdiri semula, melenggang pergi menuju aula yang terletak cukup jauh dari sini.
Gerak kakiku seolah melambat, berbaur dengan angin yang menghembus pelan mengenai wajahku, sedikit lebih tenang dengan gemericik air dari dua buah air mancur yang berada di sisi timur lapangan basket, menaiki anak tangga yang pertama, hatiku sudah benar-benar kacau, seolah suasana mencekam telah hadir untuk menghujamku lebih parah.
Ruang aula yang berukuran sedang, tak kecil maupun tak terlalu besar, telah banyak mahasiswi berseragam orange duduk di kursi-kursi aula, ah pasti mereka semua sedang mengalami perasaan yang sama denganku, —was-was hanya saja mereka lebih pintar untuk menyembunyikannya dengan berbincang-bincang, canda dan tawa.
Dua dosen yang membawa map, memasuki aula, seketika aula yang tadinya hiruk-pikuk dengan obrolan masing-masing anak manusia itu kemudian hening tanpa dikomando. JLEB inilah rapat eksekusi, mungkin peradilan ALLAH semacam ini di akhirat, membuatku gelisah, namun keadilan harus ditegakkan, suara dosenku mulai terdengar di pengeras suara, aku yang duduk di belakang pun bisa menangkap jelas apa yang sedang dibicarakannya. Ini dia saatnya, ketika satu persatu dosenku menyebut angka beserta nama pemiliknya, hatiku semakin meronta untuk keluar dari jalur semestinya, degup jantungku benar-benar tak normal.
Aku mendengarkan dengan begitu teliti siapa tahu dari nama yang dosenku sebut ada namaku, namun satu dua, bahkan nyaris habis, namaku tak disebut kemudian, EL dengan IP x,yy apa benarkah itu aku, Allahu Akbar, aku tersungkur, berdiri dengan kedua kaki ini seolah tak mampu, riuh tepuk tangan dan pandangan mereka tertuju penuh padaku.
Kawan yang senantiasa duduk disampingku ketika kuliah menangis, ya menangis, bahkan dua orang sekaligus, satu hal yang aku ingat, "Menulis itu ajaib, selamat el, Allah memberikanmu kesempatan untuk mencentang lagi coretanmu di cover binder."
Aku mengangguk pelan, air mataku yang berbicara, semua ciptaanMu bertasbih, lantai ini bertasbih, awan putih, langit, daun yang berbisik, angin yang berhembus pelan, mereka bertasbih, janjiMu nyata Ya Rabb.
Mataku melayang ke beberapa bulan di tahun lalu, ketika aku mencorat-coret membuat skema resolusi untuk ku jadikan acuhan melangkah, dan satu persatu ini benar menjadi nyata, sekali lagi, MENULIS ITU AJAIB :)
Jember, 2 Maret 2012 (mentari bersinar)
Jember, 2 Maret 2012 (mentari bersinar)

0 komentar:
Posting Komentar