Berpayung mendung ketika kendaraanku kemudian menepi disalah satu toko obat, tempelan poster memamerkan berbagai macam deret obat bercampur aroma yang tak kalah menyengat hinggap mengenai indera penciumanku. Kusodorkan selembar kertas pada wanita berambut hitam panjang, wanita yang lincah, tanpa menunggu lama, tiga jenis obat telah berpindah di genggaman tanganku, balas senyum ucapaan terima kasih ketika kusodorkan uang pembayarannya.
Langit mendung masih tak mau kalah saing dengan langit senja, sudah dua hari ini aku tak melihat langit kemerahan, dan sekarang lagi? Ah rindu juga.
"Kak, mumpung belum hujan, beli bakpao yuk" ajak saudara perempuanku.
Bakpao? kue setengah bulat, berwarna putih, ah bukankah itu kue favoritku.
"Ayuk" anggukku semangat.
Tanpa ba-bi-bu lagi, ku kemudikan kendaraanku mencari penjual bakpao, aha itu dia, tepat dibawah pohon besar disebelah warung sederhana, nampaknya cuaca kali menarik para konsumen untuk mencari kue putih ini, antrian yang lumayan banyak, ketika gerimis pun berjatuhan yang mulai menurunkan jutaan kawan-kawannya.
Langit benar-benar sedang menangis, tersadar aku pun terkena imbasnya, bajuku basah.
"Turun neng, berteduhlah dulu!" seru penjual bakpao yang baik ini.
Balasku tersenyum, "Terima kasih, Pak. Sudah terlanjur basah."
Ah ya, cepatlah sedikit bakpao pesananku, dan alhamdulilllah, pesanan telah berpindah ke tangan saudara perempuanku.
Aku tak punya cukup banyak waktu untuk sekedar menikmati gerimis yang telah berganti menjadi hujan deras, mereka menghujamku dan semakin membuatku beku. Kupacu kendaraanku secepat mungkin agar aku bisa mengganti baju basah ini dengan baju hangat sembari menyantap bakpao hangat, hmmm terbayang begitu nikmatnya.
Semua bukan khayalan lagi usai aku merapikan diri dan siap menyantap bakpao putih di payung rumahku yang hangat, setengah bulat dengan titik berwarna merah diatasnya, mungkin sebagai pertanda rasa apa dibaliknya, kugigit sedikit yang manisnya mengalirkan ke saraf-saraf indera perasaku, sedikit lagi bagian isi yang bisa aku rasakan manis cokelat dengan aroma yang bisa ditebak.
Bakpao, putih dengan titik merah diatasnya, bukankah ini pelajaran berharaga? sejenak kuhentikan gigitan berulangku. Mengamati lagi dalam-dalam dengan tatapan fokus meneliti, ini mengajariku, ketika ku hanya memandang titik merah ini saja mungkin aku tak akan bisa mengucap syukur bahwa ternyata ada putih yang tersebar lebih banyak disekelilingnya, masalah kehidupan, salah jika aku hanya terfokus dengan masalah, menanggapinya dengan keluhan ketika nikmat yang tersebar lebih banyak, harusnya aku tak boleh terfokus dengan satu titik masalah saja, bukankah aku bisa memandang putih? Aha ya benar.
Aku menggigit sekali lagi ketika ku menemukan rahasia lagi dalam sebuah bakpao, bagaimana dengan isinya?
Inikan kehidupan jua? Ketika kita hanya berhenti dalam proses memandang, kita tak akan pernah menemukan kejutan indah didalamnya, seperti rasa manis cokelat didalam bakpao ini, hmm yayaya....
Inikan kehidupan jua? Ketika kita hanya berhenti dalam proses memandang, kita tak akan pernah menemukan kejutan indah didalamnya, seperti rasa manis cokelat didalam bakpao ini, hmm yayaya....
Kehidupan, memang harus terus berjalan...
Masalah memang kawan kehidupan, namun dengannya kita bisa menebak bagaimana kelanjutan kemampuan kita, dalam memandang hingga gigitan terakhir dalam menjemput kejutan yang membuat kita tersenyum pada akhirnya.
Masalah sebuah proses, bukan pemberhentian yang membutakan mata dalam memandang keindahan sekeliling.
Jember, 6 Maret 2012

0 komentar:
Posting Komentar