Senin, 05 Maret 2012

Menyudahi dengan TITIK


Mataku masih menyala dengan tegas menatap layar monitor tua, meskipun jarum jam pendek dan jarum jam panjang menunjuk angka yang sama —12 ketika jarum detik berlalu dari angka 12, aku mengetikkan sebuah kalimat.
"Barakallah fii umrik wa hayatik"
Namun setelah kalimat itu selesai aku ketik, tanganku kembali menghapusnya tanpa sisa.
"AKU BELUM BERNYALI"
Mungkin seperti inilah perasaan perempuan mulia itu dahulu kala, terkenang dalam diam.
Fatimah Az-Zahra, aku ingin seperti dia, menyimpannya rapat-rapat, hingga takdir yang membuka jalan untuknya bisa mengungkap rasa "terkenang" itu pada dia yang telah menjadi suratan takdir sebagai pengemudi roda kehidupan bersamanya.

Adalah aku perempuan yang begitu berbeda namun selalu berkhayal agar bisa menyamainya, namun skenario Illah begitu penuh jalan cerita, lain dengannya begitu juga denganku, lucu, satu kata yang bisa aku ungkap saat ini, bagaimana mungkin ini perasaan terkenang, karena aku meyakini ketika usai menyelesaikan coretan ini, rasa itu akan kusudahi juga, aku tak ingin mendua dengan dia yang tak jelas.

Membingkai malam ini dengan sebuah titik sebagai akhir perjalanan dari sebuah kesemuan, ketika aku menutup jalan cerita ini, aku ingin beralih mencari lily malam, membagi kisah akan episode yang aku tunggu bagaimana ending yang telah dipersiapkan Illahi Rabbi.

Jember, 5 Maret 2012

0 komentar:

Posting Komentar