Jumat, 20 Juli 2012

Ada Bekas Usai Jatuh



“Aaaaaaawwww…..” teriakan orang-orang sekitar lapangan itu semakin membuatku tersentak, ya, aku mengingat jelas kejadian “jatuh” itu, sungguh perasaan malu dan sakit bertumpah menjadi satu, bahkan ketika itu aku seolah tak peduli akan darah yang terus mengucur di kakiku, aku terlalu malu untuk menatap orang-orang yang menyaksikanku terperosok jatuh mencium tumpukan pasir dekat lapangan. Kupaksa tubuhku bangkit berjalan menjauh dari tatapan kalian.

Vertebraeku kusandarkan lagi di dinding kamar kos yang bercat hijau muda, benar-benar memoar yang tak pernah aku lupa. Sedikit kusingkap rok ku, ternyata kejadian 3 tahun lalu menyisakan bekas di lutut kiriku.
“Pendarahan bawah kulit” begitu vonis diberikan tanteku yang seorang perawat. Ah “jatuh” memang sakit, sangat sakit… aku menahan rasa sakit ketika kulitku yang terluka bersentuhan dengan jarum suntik dan perlahan spuit itu berisi banyak darah.

Bahkan ketika luka itu telah hilang tapi sampai kini masih menyisakan “bekas”, oh yes, aku punya dua bekas luka di lutut kiriku, “jatuh” ketika masih TK dan jatuh tiga tahun silam.

Begitu pulakah akan hati? Samakah? Ah kasiannya… harus kuobati dengan apa untuk menghilangkan bekasnya?
Aku yakin pipiku memerah jika kuceritakan perihal hati, aku malu bahkan sangat malu kepada-Mu, betapa cerobohnya diri ini menjatuhkan hati yang telah Engkau titipkan.
Bagaimana ini Tuhan, kini hatiku berbekas, masihkah Engkau mau menerima cinta dari hati yang telah cacat ini?

0 komentar:

Posting Komentar