“Aaaaaaawwww…..”
teriakan orang-orang sekitar lapangan itu semakin membuatku tersentak, ya, aku
mengingat jelas kejadian “jatuh” itu, sungguh perasaan malu dan sakit bertumpah
menjadi satu, bahkan ketika itu aku seolah tak peduli akan darah yang terus mengucur
di kakiku, aku terlalu malu untuk menatap orang-orang yang menyaksikanku
terperosok jatuh mencium tumpukan pasir dekat lapangan. Kupaksa tubuhku bangkit
berjalan menjauh dari tatapan kalian.
Vertebraeku kusandarkan lagi di dinding kamar kos yang bercat hijau muda, benar-benar memoar yang tak pernah aku lupa. Sedikit kusingkap rok ku, ternyata kejadian 3 tahun lalu menyisakan bekas di lutut kiriku.
“Pendarahan
bawah kulit” begitu vonis diberikan tanteku yang seorang perawat. Ah “jatuh”
memang sakit, sangat sakit… aku menahan rasa sakit ketika kulitku yang terluka
bersentuhan dengan jarum suntik dan perlahan spuit itu berisi banyak darah.
Bahkan
ketika luka itu telah hilang tapi sampai kini masih menyisakan “bekas”, oh yes,
aku punya dua bekas luka di lutut kiriku, “jatuh” ketika masih TK dan jatuh
tiga tahun silam.
Begitu
pulakah akan hati? Samakah? Ah kasiannya… harus kuobati dengan apa untuk
menghilangkan bekasnya?
Aku
yakin pipiku memerah jika kuceritakan perihal hati, aku malu bahkan sangat malu
kepada-Mu, betapa cerobohnya diri ini menjatuhkan hati yang telah Engkau
titipkan.
Bagaimana
ini Tuhan, kini hatiku berbekas, masihkah Engkau mau menerima cinta dari hati
yang telah cacat ini?

0 komentar:
Posting Komentar