Tak
kan kita mengenal angka dua jika sebelumnya angka satu tiada mendahului,
begitulah cipta cinta, menjelma ketika hadirmu menghiasi waktuku.
Ketika
skenario menghadirkan rasa, permulaan begitu kala itu, awal perjumpaan hati di
titik rasa –suka, dan atau seringkali kita menyebutnya ini –cinta pertama.
Melambungkan
jiwa di ketinggian nimbus putih cantik, atau lebih diketinggiannya lagi,
menembus antariksa, menyisiri keindahan jagat alam semesta.
Ingatkah?
Awal kau sebut namamu, juluran kata tanda pertemanan, senyum simetris meregang
diantara wajah penuh gairah. Siapa kira itulah awal munculnya gejolak, dan
intensitas ternyata turut andil dalam hal ini.
Jadi?
Bisakah kau jelaskan ini cinta atau kebiasaan?
Waktu
yang bermetamorfosa menjadikan segalanya berubah menghujam menukik tajam ke bawah,
ketika serangkaian impian masa depan telah sempurna dirancang namun takdir-Nya
yang tak bisa dilawan telah berkata “bukan untukmu”
Luka,
inilah fase pertama kali yang tercipta, marah-kecewa-sedih percampuran yang
begitu istimewa terhidang membentengi masa depan kelam.
Lalu
inikah akhir?
Apakah
terpurukmu menjadikan sekat yang membatasi ruang gerak jumpa dengan orang
terakhir?


0 komentar:
Posting Komentar