Senin, 06 Agustus 2012

Permulaan


Tak kan kita mengenal angka dua jika sebelumnya angka satu tiada mendahului, begitulah cipta cinta, menjelma ketika hadirmu menghiasi waktuku.
Ketika skenario menghadirkan rasa, permulaan begitu kala itu, awal perjumpaan hati di titik rasa –suka, dan atau seringkali kita menyebutnya ini –cinta pertama.

Melambungkan jiwa di ketinggian nimbus putih cantik, atau lebih diketinggiannya lagi, menembus antariksa, menyisiri keindahan jagat alam semesta.
Ingatkah? Awal kau sebut namamu, juluran kata tanda pertemanan, senyum simetris meregang diantara wajah penuh gairah. Siapa kira itulah awal munculnya gejolak, dan intensitas ternyata turut andil dalam hal ini.


Jadi? Bisakah kau jelaskan ini cinta atau kebiasaan?
Waktu yang bermetamorfosa menjadikan segalanya berubah menghujam menukik tajam ke bawah, ketika serangkaian impian masa depan telah sempurna dirancang namun takdir-Nya yang tak bisa dilawan telah berkata “bukan untukmu”
Luka, inilah fase pertama kali yang tercipta, marah-kecewa-sedih percampuran yang begitu istimewa terhidang membentengi masa depan kelam.
Lalu inikah akhir?
Apakah terpurukmu menjadikan sekat yang membatasi ruang gerak jumpa dengan orang terakhir?

0 komentar:

Posting Komentar