Jumat, 09 November 2012

Pilihan


“Cinta tak pernah meminta untuk menanti,” katamu waktu itu mengulang kalimat yang paling aku sukai dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang yang ditulis oleh ustadz Salim A. Fillah.

“Ya,” aku terdiam menunggu kalimat dewasamu lagi. Usia kita memang terpaut cukup jauh, mungkin jua itulah alasan mengapa aku memilihmu, kau yang lebih berpengalaman, dan banyak ilmu yang telah kau serap, hingga aku percaya akan setiap kalimat yang kau keluarkan dan kau tujukan padaku. Tapi mengapa itu baru kusadari ketika ku tolak dirimu dengan berlindung dibawah ketidaksiapan perkara usia dan studi.


“Cinta itu kata kerja, biarlah ia bekerja menemukan maknanya sendiri, tugas kita hanyalah memantaskan diri, cinta itu memang buta tapi biarkan ia menemukan jalannya sendiri.”

“Bagaimana jika tanpa sengaja aku menjadi Majnun yang terus menerus berharap bersatu dengan Layla?”

“Mengapa kau bertanya demikian, apakah kau lupa akhir kisah Layla dan Majnun? Meskipun akhirnya mereka bersatu namun perpisahan yang menjadi akhir paling tragis, ketika Layla bukan lagi masuk daftar orang yang Qais cinta. Biarkan cinta bekerja menemukan siapa yang pantas untuk masing-masing dari kita, jikalah memang tertulis nama kita bersanding dalam Lauhul Mahfudz, kelak kita akan bertemu saling mengikat komitmen dalam mitsaqan ghalizaa.”

“Bagaimana jika aku bukan yang tertulis untukmu?”

“Pertanyaanmu seolah kau tak pernah mengerti betapa mulianya Salman Al Farisi yang merelakan cintanya.”

“Cukup. Aku mengerti, jadi bolehkah jika kali ini aku akan menghilangkan jejakmu dalam kehidupanku?” Seketika hening menyelimuti masing-masing dari kita, ada sesak yang begitu menekan rusukku, ada tangis yang tertahan disana. Antara perasaan dan ketentuan.

“Jangan,” jawabmu singkat.

“Jika aku terus melihatmu, itu akan lebih membunuhku. Sedang berucap seperti ini, kau lebih tau apa hukumnya! Tuntaskan sekarang juga tentang apa-apa yang mengganjal, agar nanti diri ini terfokus untuk memantaskan diri.” Sepertinya aku telah tertular kalimat dewasamu, entah mengapa bisa aku berucap sedemikian rupa.

“Baiklah. Silakahkan, lakukan," akhirmu menuntaskan.




Inilah pilihan inilah jalan yang kelak kita akan menemukan cahaya, ada ridho-Nya dalam langkah dan pijakan, semoga berakhir bahagia, sabar dalam menapaki skenario dari-Nya, karena ada Cinta diatas Cinta, inilah kesiapan dan inilah saatnya...


Jember, kala memilih




0 komentar:

Posting Komentar