“Cinta tak pernah meminta untuk menanti,”
katamu waktu itu mengulang kalimat yang paling aku sukai dalam buku Jalan Cinta
Para Pejuang yang ditulis oleh ustadz Salim A. Fillah.
“Ya,” aku terdiam menunggu kalimat dewasamu
lagi. Usia kita memang terpaut cukup jauh, mungkin jua itulah alasan mengapa
aku memilihmu, kau yang lebih berpengalaman, dan banyak ilmu yang telah kau
serap, hingga aku percaya akan setiap kalimat yang kau keluarkan dan kau
tujukan padaku. Tapi mengapa itu baru kusadari ketika ku tolak dirimu dengan
berlindung dibawah ketidaksiapan perkara usia dan studi.
“Cinta itu kata kerja, biarlah ia bekerja
menemukan maknanya sendiri, tugas kita hanyalah memantaskan diri, cinta itu
memang buta tapi biarkan ia menemukan jalannya sendiri.”
“Bagaimana jika tanpa sengaja aku menjadi
Majnun yang terus menerus berharap bersatu dengan Layla?”
“Mengapa kau bertanya demikian, apakah kau
lupa akhir kisah Layla dan Majnun? Meskipun akhirnya mereka bersatu namun
perpisahan yang menjadi akhir paling tragis, ketika Layla bukan lagi masuk
daftar orang yang Qais cinta. Biarkan cinta bekerja menemukan siapa yang pantas
untuk masing-masing dari kita, jikalah memang tertulis nama kita bersanding
dalam Lauhul Mahfudz, kelak kita akan bertemu saling mengikat komitmen dalam
mitsaqan ghalizaa.”
“Bagaimana jika aku bukan yang tertulis
untukmu?”
“Pertanyaanmu seolah kau tak pernah mengerti
betapa mulianya Salman Al Farisi yang merelakan cintanya.”
“Cukup. Aku mengerti, jadi bolehkah jika kali
ini aku akan menghilangkan jejakmu dalam kehidupanku?” Seketika hening
menyelimuti masing-masing dari kita, ada sesak yang begitu menekan rusukku, ada
tangis yang tertahan disana. Antara perasaan dan ketentuan.
“Jangan,” jawabmu singkat.
“Jika aku terus melihatmu, itu akan lebih
membunuhku. Sedang berucap seperti ini, kau lebih tau apa hukumnya! Tuntaskan
sekarang juga tentang apa-apa yang mengganjal, agar nanti diri ini terfokus
untuk memantaskan diri.” Sepertinya aku telah tertular kalimat dewasamu, entah
mengapa bisa aku berucap sedemikian rupa.
“Baiklah. Silakahkan, lakukan," akhirmu
menuntaskan.
Inilah pilihan inilah jalan yang kelak kita
akan menemukan cahaya, ada ridho-Nya dalam langkah dan pijakan, semoga berakhir
bahagia, sabar dalam menapaki skenario dari-Nya, karena ada Cinta diatas Cinta,
inilah kesiapan dan inilah saatnya...
Jember,
kala memilih

0 komentar:
Posting Komentar