Sepinggan nasi goreng bertoping cumi goreng terhidang lezat didepan meja makan, tak biasanya aku sarapan sepagi ini, namun seolah menu pagi ini yang cukup menggugah nafsu makanku, kugigit sedikit makhluk bertinta dengan tentacle yang tak membuatku geli, aku memang suka cumi, dagingnya yang kenyal dengan aroma yang khas telah beradu dengan nasi goreng buatan mama. Dengan sekejap saja, makanan itu telah berpindah mengisi perutku.
"Kak, jogging yuk," ajak salah seorang saudara perempuanku.
"Ok" lumayanlah sekalian buat menghilangkan lemak dari sepinggan nasi goreng dan cumi yang aku santap barusan.
Langit mendung menggantung menghilangkan jejak mentari pagi, kendaraan beroda dua milikku beradu dengan pengendara lain, jalanan kota yang cukup semrawut, semua seolah berlomba untuk segera tiba ditempat tujuannya masing-masing, mobil, sepeda motor, becak, angkutan kota, semua berbaur tumpah ruah dijalanan kota, sungguh pagi yang berpolusi.
Aku melajukan kendaraan dan kemudian menepi di alun-alun kota, lapangan hijau dengan jogging track yang cukup apik berbaur dengan tatanan pepohonan berukuran besar. Beberapa telah beraktifitas, dua lapangan basket telah penuh dengan anak-anak muda, tak jauh dari sana ada beberapa yang saling menendang bola, berlari, berjalan, bahkan ada yang sekedar duduk-duduk menikmati suasana.
Aku dengan sepupuku memilih pemanasan dengan jalan, sedikit berbincang-bincang mengomentari perbedaan suasana di hari ini dengan hari minggu, "Kalau hari minggu, rasanya berjalan pun seperti tak ada celah," komentar sepupuku yang memiliki rambut keriting.
Aku hanya mengangguk menyetujui komentarnya.
Tak lama kemudian ada dua orang bapak-bapak mendahului jalan kami, dan aku tertawa kecil melihat mereka, oh maksudku pakaian yang mereka kenakan, salah seorang mengenakan baju warna merah dan seorang lagi mengenakan baju berwarna putih. "Mereka seperti kita, hihi" ujarku. Dan aha, kami tersadar ternyata kami pun mengenakan pakaian senada dengan mereka, aku —putih dan sepupuku —merah.
"Iyah tinggal dikerek di tiang bendera," canda sepupuku.
Belum usai kami menyelesaikan tawa, dua pasangan ibu-bapak pun mengenakan baju merah-putih juga.
Apa hari ini hari —merah putih? pikiranku menggelitik, tak jauh dari tempat kami juga, ada sepasang anak muda yang mengenakan pakaian merah-putih.
Kebetulan yang lucu.
Langit semakin menghitam, baru kami menyelasaikan putaran ketiga, hujan datang tanpa dielakkan lagi, kami berlari menuju tempat sepedaku bertengger, "Harus ngebut untuk cari tempat berteduh nih" seruku dalam hati, klik, helm ku terpasang sesuai standar keamanan, yang kemudian disahut suara BRUUUUUUK, mataku menangkap jelas kejadian yang terjadi dalam hitungan detik itu, kejadian yang terjadi hanya berjarak sekitar lima meter dari tempatku berdiri, seorang pengendara beat berwarna putih terpental sejauh tiga meter, motornya terseret kemudian terhenti karena mobil silver yang menyambut dengan DUK hantaman tak keras, aku tergugu, langit mendung bertasbih, guyuran hujan bertasbih, jalanan aspal bertasbih, rumput dengan goyangnya yang diterpa angin, dan aku membisu ketika orang-orang berteriak kemudian menghambur menghampiri perempuan malang itu, untuk kesekian kalinya ALLAH menegur tidak dengan lisannya "jangan mencoba ngebut!" melainkan dengan kejadian ini, aku mengalaminya berpuluh kali, kecelakaan didepan kedua mataku.
Aku berlalu dari parkiran dengan kehilangan hasrat untuk menambah kecepatan diambang batas normal. Biar hujan membasahiku dengan caranya yang indah, langit mendung masih menyisakan rasa duka untuk perempuan pengendara beat putih yang malang, ah syukur hanya lecet dan aku terus mengucap alhamdulillah karena hal itu tak terjadi padaku.
Semua bertasbih padaMu, semua menyebut dan mencinta, kali ini untuk nikmat yang terhitung, aku mengaku kalah, aku benar mencintaMu, wahai ILLAH Penguasa Jagat.
Jember, 3 Maret 2012 (Kala hujan menyambut pagi)

0 komentar:
Posting Komentar