Senin, 26 Maret 2012

Secangkir Kekaguman


"Aku kagum terhadapmu," tegurmu mengawali pagi ini, dengan menyesap teh melati yang kusuguhkan diatas cangkir bening diatas meja kayu jati.
"Jangan kagum terhadapku, karena kelak kau akan kecewa kepadaku," pandangku melarikan diri ke arah jalanan beraspal.
Sesapan pertama membuatmu sedikit tersedak, kudengar kau terbatuk mendengar kalimat yang sengaja kususun untuk menanggapi pujianmu.
"Kenapa begitu?" tanyamu cepat, mata cokelatmu seolah memburuku.
"Karena aku hanya perempuan biasa, yang membedakanku mungkin karena Allah menutup aibku saja, maka dari itu kau melihatku seperti lebih baik dari mereka."
"Dengan kau berkata seperti itu, kau membuatku semakin mengagumimu." ucapmu santai sambil kembali menyesap teh di cangkirmu.
"Kagumi Allahku, jangan aku!" sedikit kuredam emosiku, dan kali ini tak hanya pandangku yang melarikan diri dari lelaki bermata cokelat, namun tubuhku beranjak pergi dari beranda.
Kau meneguk isi cangkirmu tanpa sisa, dibalik tirai aku sengaja melihatmu, kemudian aku melihatmu sedang menuliskan sesuatu di selembar kertas.
"Aku pergi, assalamu'alaikum." teriakmu sambil melenggang menutup pintu gerbang rumahku yang berdencit.
"Wa'alaikumsalam" ujarku pelan.


Memastikan bahwa kau memang telah menghilang dibalik jalanan beraspal depan rumahku, aku kembali ke beranda, melihat cangkir yang telah kosong dan sebuah buku. Ada kertas yang dilipat disana. Cepat aku membukanya.
Kukagumi kau setelah Allah, dengan jarak sekian ke sekian yang sangat jauh, setelah rasulku, orang tuaku, bahkan sahabat-sahabatku. Tehmu enak, manis seperti caramu menyuruhku untuk berhenti mengagumimu, dan meredakan dahagaku seperti kau yang kemudian hadir untuk meredakan keraguanku.

Kemudian aku hanya terdiam dan kembali melipat kertasmu ke dalam buku milikku.

Jember, 26 Maret 2012 
 

0 komentar:

Posting Komentar