Sabtu, 14 April 2012

Secangkir Kopi Perkenalan



Kepulan asap cafein yang belum semenit diseduh itu membubung ditepian bibirku, aroma perpaduan kopi, susu dan jahe menambah kesatuan yang khas.
Sesekali aku mengaduk kopiku memutar searah jarum jam, membuat tornado kecil didalam cangkir.
Disampingnya bulatan pipih sedang berwarna putih turut serta menebarkan wangi yang khas untuk segera dicicip lidah —bakpao, kue favoritku. Aku menemukan rasa yang sama dengan alunan simfoni alam yang tak pernah sama.


Kali ini pikiranku sedang tak menentu, ditambah beban nyeri di lengan sebelah kiri bagian atas. Kenapa semua "tukang suntik" sama saja, tadi dia bilang "nggak sakit kok, cuma seperti digigit semut"
Apa?
Semut apa yang bisa menggigit sesakit ini?
Sebanyak 1cc cairan didalam spuit berpindah dengan manis melewati celah jarum yang menghubungkan ke dalam kulitku.
Ah, mungkin nanti aku akan menjadi pembohong seperti mereka, "Nggak sakit kok, cuma terasa nyeri"
Hahaha, sepertinya mulai dari sekarang aku harus mengganti kalimat sugesti yang lebih jujur, "Sakitnya sebentar, ditahan dulu ya." Bagaimana dengan kalimat itu?
Jujur dan tidak dibuat-buat, setidaknya menyuntik tak akan membutuhkan waktu sampai berjam-jam atau mungkin bertahun-tahun seperti kisah kalian yang mengalami duka perpisahan dengan orang tercinta, ah bukankah begitu? Aku pun pernah mengalaminya, tenang saja, aku tak akan menertawai pantulan wajahku di cermin.

Memikirkan sesuatu selalu membutuhkan pasokan energi berlebih, seperti kata dosen ASKEB ku, disaat berfikir maka tubuh akan melakukan pembakaran energi lebih dari biasanya, syukurlah, dengan begitu, setidaknya malam ini tak begitu banyak timbunan yang melekat di tubuhku, aku menyeruput tanpa ampun kopi yang baru kali ini ku minum.
Bukan kopi dari merk kesukaanku, hmm tak mengapalah setidaknya lidahku masih menerima kehadiran air berwarna pekat itu.

Lama aku tenggelam bersama harapan melambung tinggi menjauh memikirkan masadepan, masa penuh misteri dan selalu tersekat dengan satu kata kematian.

Kusenderkan vertebraeku ke tepian dinding rumah, otakku memutar lagi, dan kutemukan sebuah cara, dalam lampau hening panjang, aku berdoa, "Jadikan aku bermanfaat bagi orang lain."

Selalu ada "pertama kali" dalam kehidupan, seperti perkenalan lidahku dengan kopi jahe malam ini, dan untuk pertemuan kedua, tunggulah waktu dan rasa yang "aneh" muncul seperti rindu berbalut tanya, "kapan?"

Jember, 14 April 2012


0 komentar:

Posting Komentar