“Kesetianmu bisa diacungi jempol, namun kadangkala hal itu akan menjadikannya boomerang bagimu sendiri,” begitu kataku ketika ku melihat pantulan wajahku di balik cermin.
Aku menyeringai tak mengerti, kulongokkan kepala keluar jendela, melihat gumpalan-gumapalan nimbus berukuran kecil, “Apakah setia itu hal yang salah? Apakah keterlaluan jika aku bisa memiliki rasa setia yang begitu mendalam?”
Hembusan sang bayu menerpa rambut panjang hitamku, menyisir acak-acakan yang membuat sebagiannya menghalangi indera penglihatanku, kembali kurapikan, dan menyelipkannya dibalik telinga, “Aku tak akan bisa berpaling dari dia dari perasaan terkenang ini sebelum aku menemukan dia telah menikah dengan lainnya. Apakah aku salah jika bertipikal seperti ini?”
Jauh memasuki alam bawah sadarku aku menemukan kepingan hati yang telah kubiarkan pergi bersama sang bayu, ketika ku ketahui salah satu yang pernah hinggap telah menemukan rusuknya yang hilang —dan itu bukan aku.
Ternyata itu tak menyakitkan, apakah aku mengira itu sebuah pengkhianatan? Tidak sama sekali, aku tersenyum menyalaminya.
Kemudian, lagi hatiku berulah pada lainnya, dan aku meronta, takut tersungkur kedua kalinya, ah dasar gadis polos.
Jember, 23 Maret 2012 (inspirasi dari curhatan temen)
Jember, 23 Maret 2012 (inspirasi dari curhatan temen)

0 komentar:
Posting Komentar